Posted by: cerianet on: 6 April 2008
Da’wah dan tarbiyah adalah amanah Allah yang wajib diemban dengan penuh kesungguhan sebagai manifestasi kesungguhan kita pada-Nya atas hidayah-Nya kepada kita sehingga kita dapat mengenal dan menelusuri jalan yang mulia ini. Selain bahwa kesadaran kita terhadap amanah besar ini adalah merupakan syarat utama untuk beristiqmah di jalan ini. Makanya seluruh bentuk futur, kelalaian dan kemalasan, bersumber dari kurangnya kesadaran terhadap amanah ini dan kurang syukur terhadap ni’mat Allah yang amat besar ini, sekaligus !
Da’wah dan tarbiyah adalah perjalanan panjang, sepanjang hayat kita, selama jantung masih berdetak, selama darah masih mengalir, kapan dan dimanapun kita berada, maju terus pantang mundur, betapa dan bagaimanapun tantangan yang kita hadapi !!
Ini adalah jalan kesungguhan ! Ini adalah jalan jihad ! Ini adalah jalan kesetiaan terhadap Allah SWT dan Rasul-Nya SAW ! Ini adalah jalan para mujahidin sepanjang zaman. Jalan kemuliaan dan keselamatan hakiki. Jalan ini menuntut peningkatan pemahaman dan budaya saling menasehati atas dasar keikhlasan, secara berkesinambungan, yang akan menjadi motor penggerak untuk mewujudkan mujahadah disegala aspek amal jama’i secara seimbang.
Kendala-kendala nafsiyah adalah salah satu sisi terpenting dalam kepribadian kita yang perlu mendapat prioritas dari kita semua. Karena hampir seluruh kegagalan/kemandekan/kelambanan di jalan ini bersumber dari kendala nafsiyah. Untuk itu nafsiyah kita wajib kita perhatikan secara seksama melalui muhasabah yang serius, tazkiyah yang rutin dengan penuh kejujuran dan keikhlasan.
Dalam kesempatan kali ini, perkenankanlah ana untuk memaparkan satu renungan sederhana terhadap salah satu kendala nafsiyah yang sangat kalus tapi sangat berbahaya dalam perjalanan da’wah dan tarbiyah, yaitu : Ambisi pengakuan.
Semoga tulisan sederhana ini dapat menjadi nasehat yang bermanfaat untuk diri ana dan segenap Ikhwah ana yang ana cintai karena Allah SWT, wabillahittaufiq.
Pengertian Materi :
Ambisi pengakuan yang dimaksud dalam materi ini ialah.
Keinginan yang tinggi untuk mendapatkan pengakuan/penghargaan dari orang lain.
Hubungan antara ambisi pengakuan dengan riya’.
Ambisi pengakuan adalah motivator untuk riya’, sedang riya’ adalah keinginan untuk dipuji disaat berbuat satu amal. Selain itu, ambisi pengakuan lebih akrab dengan keinginan untuk mendapatkan kedudukan/kehormatan, sedang riya’ bersifat lebih umum.
Hubungan antara ambisi pengakuan dengan instink keinginan untuk dipuji.
Instink keinginan untuk dipuji itu adalah satu kekuatan untuk mewujudkan jati diri dalam kehidupan bermasyarakat, menyalurkan dan mengembangkan potensi diri secara positif. Ambisi pengakuan adalah refleksi keinginan untuk dipuji yang berlebihan dan mengarah kepada hal yang negatif menurut syari’ah dan da’wah. Disisi lain, instink keinginan untuk dupuji adalah salah satu sunnatullah dalam kejiwaan manusia yang harus dipahami oleh setiap da’I agar ia dermawan dalam memberikan pujian-pujian tulus pada setiap orang, pada saat yang tepat dan dalam porsi yang bijaksana.
Hubungan antara ambisi pengakuan dengan sifat dinamis.
Ambisi pengakuan tidaklah sama dengan sifat dinamis dan kreatif, karena ambisi pengakuan adalah jiwa, kondisi nafsiyah. Ia bisa saja berada pada orang yang dinamis, sebagaimana ia mungkin juga berada pada orang yang apatis. Sifat aktif, kreatif dan dinamis yang positif adalah sifat yang terpuji, selama ia bebas dari ambisi pengakuan.
Perbedaan antara ambisi pengakuan dengan anjuran untuk bercita-cita tinggi.
Didalam QS : Al Furqan (25) Ayat 74, Allah SWT mengajarkan kepadda kita untuk berdo’a agar Allah menjadikan kita pemimpin para muttaqin. Ayat tersebut memberi isyarat motivasi kepada kita agar kita bercita-cita tinggi yang tentu harus dibarengi dengan kerja keras.
Bercita-cita dan beridealisme tinggi berbeda dengan ambisi pengakuan, dari berbagai sisi, antara lain :
Urgensi materi :
Banyak hal yang mendasari pentingnya materi ini untuk dibahas dan diperhatikan secara seksama, antara lain sebagai berikut :
Atas dasar semua itulah maka kajian ini penting untuk dikaji secara serius, mendalam dan menghasilkan beberapa tindak lanjut yang kongkrit.
Beberapa fenomena ambisi pengakuan.
Agar kita dapat mendeteksi penyakit ini dalam diri kita sedini mungkin, kita perlu menghasilkan beberapa cirinya yang dapat kita rasakan. Ciri-ciri tersebut antara lain :
Sebagai bahan renungan, mari kita mengambil beberapa pelajaran berharga dari kisah pemilihan Thalut sebagai raja, dalam QS : Al Baqarah (2) Ayat : 246 – 252.
Selain itu, mari kita renungkan sabda Rasulullah SAW berikut ini :
Dari Abu Musa Al Asy’ari RA, beliau mengatakan : Rasulullah SAW pernah bersabda :
“Sesungguhnya kami, demi Allah ! kami tidak mengangkat sebagai pemimpin terhadap pekerjaan (jabatan) ini, seseorang yang memintanya. Dan (kami) tidak (mengangkat) seseorang yang sangat menginginkannya”
Hadits ini dikeluarkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim. Lafazh diatas adalah lafazh Imam Muslim. Shahih Bukhari : Kitab : Al Ahkam, hadits nomor : 6616. Shahih Muslim : Kitab Al Imarah, hadits nomor : 3402
Itulah beberapa ciri sederhana dari penyakit yang sangat berbahaya ini, semoga kita dikaruniai kepekaan batin oleh Allah SWT sehingga kita dapat merasakan setiap sinyal walau sangat redup dari penyakit ini.
Beberapa bahaya ambisi pengakuan.
Sebagai bahan renungan, mari kita renungkan perintah Allah SWT untuk bersabar bersama jama’ah yang shaleh, dalam QS : Al Kahfi (18) Ayat : 28
Selanjutnya mari kita renungkan urgensi kontrol niat setiap saat agar ia suci dari keinginan-keinginan untuk mendapatkan sesuatu selain ridha Allah SWT, melalui tadabbur hadits mulia berikut ini :
Dari Abu Musa Al Asy’ari RA, beliau mengatakan : “Seorang Arab Badui pernah bertanya kepada Nabi SAW :
“Seseorang berperang untuk mendapatkan harta rampasan. Seseorang berperang untuk disebut-sebut; dan ia berperang untuk dipuji.
Siapakah (diantara mereka) yang berperang dijalan Allah ? Lalu Rasulullah SAW menjawab :
“Siapa yang berperang agar kalimah Allahlah yang tertinggi, dialah yang berperang dijalan Allah”
Hadits ini dikeluarkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim. Lafazh diatas adalah lafazh Imam Muslim. Shahih Bukhari : Kitab : Al Khumus, hadits nomor : 2894. Shahih Muslim : Kitab Al Imarah, hadits nomor : 3523
Demikianlah beberapa bentuk singkat dari bahaya besar yang dapat ditimbulkan oleh penyakit ambisi pengakuan ini, yang bila kita menyempatkan diri untuk merenungi ulang setiap point diatas, kita akan berkesimpulan bahwa semua itu sangat logis, benar dan sangat mungkin terjadi pada diri kita dan pada ikhwah kita, yang bahayanya tidak hanya bersifat pribadi, tapi sangat berbahaya pula untu da’wah dan harakah. Bentuk bahaya besar terhadap da’wah dan harakah tidak hanya terwujud pada kelambanan gerakan, karena adanya monopoli kerja, tapi yang jauh lebih berbahaya adalah jika hasil-hasil da’wah ini hancur lebur karena perpecahan atau insilakh !! Kita semua berlindung dari pada luthfullah untuk menjaga da’wah ini dari segala bahaya.
Olehnya itu kita semua dituntut segera merasakan demikian besar amanah yang kita emban; demikian besar tantangan yang kita hadapi, terutama tantangan yang bersumber dari nafsiyah kita masing-masing, agar kita terus terpacu untuk senantiasa akrab, merapatkan shaf kita, saling terbuka terhadap nasehat dan teguran, meningkatkan loyalitas, kesetiaan, kesiapan untuk selalu taat, walaupun ketaatan itu terasa pahit. Semoga dengan demikian kita dapat mendekat pada rahmat dan taufiq Allah Yang Maha Pemurah.
Beberapa penyebab ambisi pengakuan
Kesungguhan untuk mentazkiyah diri kita dari ambisi pengakuan, mengantar kita untuk mencari dan merenungkan faktor-faktor penyebab timbulnya penyakit ini, agar penyebab itu dapat kita hindari atau kita bermujahadah untuk menghilangkannya. Faktor-faktor penyebab tersebut antara lain sebagai berikut :
Sebagai bahan renungan, mari kita hayati secara berulang-ulang, firman suci Allah SWT dalam QS : At Taubah (9) Ayat : 24 QS : At Taubah (9) : 111 – 112.
Demikianlah beberapa faktor penyebab timbulnya penyakit ambisi pengakuan yang tentu layak kita renungkan agak lama, terutama yang berkaitan dengan diri kita secara pribadi, sebab renungan itu akan kekurangan ma’nanya jika yang ada di benak kita adalah orang lain. Tidak ! Diri kitalah secara pribadi yang harus bangkit terlebih dahulu. “Karena sungguhm kekurangan dan penyakit nafsiyah ana masih terlalu banyak, sehingga ana perlu mengkhususkan waktu yang cukup untuk merenungkan kondisi pribadi yang sangat lemah ini”. Demikianlah hendaknya kita berbicara dan bertekad pada diri kita masing-masing.