Da’wah dan tarbiyah

Da’wah dan tarbiyah adalah amanah Allah yang wajib diemban dengan penuh kesungguhan sebagai manifestasi kesungguhan kita pada-Nya atas hidayah-Nya kepada kita sehingga kita dapat mengenal dan menelusuri jalan yang mulia ini. Selain bahwa kesadaran kita terhadap amanah besar ini adalah merupakan syarat utama untuk beristiqmah di jalan ini. Makanya seluruh bentuk futur, kelalaian dan kemalasan, bersumber dari kurangnya kesadaran terhadap amanah ini dan kurang syukur terhadap ni’mat Allah yang amat besar ini, sekaligus !

Da’wah dan tarbiyah adalah perjalanan panjang, sepanjang hayat kita, selama jantung masih berdetak, selama darah masih mengalir, kapan dan dimanapun kita berada, maju terus pantang mundur, betapa dan bagaimanapun tantangan yang kita hadapi !!

Ini adalah jalan kesungguhan ! Ini adalah jalan jihad ! Ini adalah jalan kesetiaan terhadap Allah SWT dan Rasul-Nya SAW ! Ini adalah jalan para mujahidin sepanjang zaman. Jalan kemuliaan dan keselamatan hakiki. Jalan ini menuntut peningkatan pemahaman dan budaya saling menasehati atas dasar keikhlasan, secara berkesinambungan, yang akan menjadi motor penggerak untuk mewujudkan mujahadah disegala aspek amal jama’i secara seimbang.

Kendala-kendala nafsiyah adalah salah satu sisi terpenting dalam kepribadian kita yang perlu mendapat prioritas dari kita semua. Karena hampir seluruh kegagalan/kemandekan/kelambanan di jalan ini bersumber dari kendala nafsiyah. Untuk itu nafsiyah kita wajib kita perhatikan secara seksama melalui muhasabah yang serius, tazkiyah yang rutin dengan penuh kejujuran dan keikhlasan.

Dalam kesempatan kali ini, perkenankanlah ana untuk memaparkan satu renungan sederhana terhadap salah satu kendala nafsiyah yang sangat kalus tapi sangat berbahaya dalam perjalanan da’wah dan tarbiyah, yaitu : Ambisi pengakuan.

Semoga tulisan sederhana ini dapat menjadi nasehat yang bermanfaat untuk diri ana dan segenap Ikhwah ana yang ana cintai karena Allah SWT, wabillahittaufiq.

Pengertian Materi :

Ambisi pengakuan yang dimaksud dalam materi ini ialah.

Keinginan yang tinggi untuk mendapatkan pengakuan/penghargaan dari orang lain.

Hubungan antara ambisi pengakuan dengan riya’.

Ambisi pengakuan adalah motivator untuk riya’, sedang riya’ adalah keinginan untuk dipuji disaat berbuat satu amal. Selain itu, ambisi pengakuan lebih akrab dengan keinginan untuk mendapatkan kedudukan/kehormatan, sedang riya’ bersifat lebih umum.

Hubungan antara ambisi pengakuan dengan instink keinginan untuk dipuji.

Instink keinginan untuk dipuji itu adalah satu kekuatan untuk mewujudkan jati diri dalam kehidupan bermasyarakat, menyalurkan dan mengembangkan potensi diri secara positif. Ambisi pengakuan adalah refleksi keinginan untuk dipuji yang berlebihan dan mengarah kepada hal yang negatif menurut syari’ah dan da’wah. Disisi lain, instink keinginan untuk dupuji adalah salah satu sunnatullah dalam kejiwaan manusia yang harus dipahami oleh setiap da’I agar ia dermawan dalam memberikan pujian-pujian tulus pada setiap orang, pada saat yang tepat dan dalam porsi yang bijaksana.

Hubungan antara ambisi pengakuan dengan sifat dinamis.

Ambisi pengakuan tidaklah sama dengan sifat dinamis dan kreatif, karena ambisi pengakuan adalah jiwa, kondisi nafsiyah. Ia bisa saja berada pada orang yang dinamis, sebagaimana ia mungkin juga berada pada orang yang apatis. Sifat aktif, kreatif dan dinamis yang positif adalah sifat yang terpuji, selama ia bebas dari ambisi pengakuan.

Perbedaan antara ambisi pengakuan dengan anjuran untuk bercita-cita tinggi.

Didalam QS : Al Furqan (25) Ayat 74, Allah SWT mengajarkan kepadda kita untuk berdo’a agar Allah menjadikan kita pemimpin para muttaqin. Ayat tersebut memberi isyarat motivasi kepada kita agar kita bercita-cita tinggi yang tentu harus dibarengi dengan kerja keras.

Bercita-cita dan beridealisme tinggi berbeda dengan ambisi pengakuan, dari berbagai sisi, antara lain :

  1. Bercita-cita tinggi yang diperintahkan oleh Allah SWT berdasarkan niat yang ikhlas, sedang ambisi pengakuan berdasarkan niat yang tidak ikhlas.
  2. Bercita-cita tinggi yang diperintahkan oleh Allah SWT bersifat Rabbani, Allah oriented, salah satu refleksinya ialah banyak berdo’a kepada Allah SWT.
  3. Bercita-cita tinggi yang diperintahkan oleh Allah SWT berdasarkan kemampuan dan kelayakan, karena seorang imam para muttaqin tentu berarti orang yang paling mampu dan paling layak untuk menjadi pemimpin dan ia dari kalangan muttaqin. Sedang ambisi pengakuan seringkali mengakibatkan naiknya orang-orang yang tidak layak dan tidak mampu untuk menjadi pemimpin, menurut kacamata Islam.

Urgensi materi :

Banyak hal yang mendasari pentingnya materi ini untuk dibahas dan diperhatikan secara seksama, antara lain sebagai berikut :

  1. Ambisi pengakuan adalah salah satu bentuk ketidak ikhlasan yang membuat amal itu sia-sia. Wal’Iyadzubillah
  2. Ambisi pengakuan adalah penyakit yang sangat menghambat da’wah, karena bila ambisi ini tidak terpenuhi maka si penderita akan mogok da’wah dan tarbiyah, ataupun ikut dengan kurang bersemangat.
  3. Ambisi pengakuan adalah salah satu sumber penyakit-penyakit berbahaya lainnya, seperti hasad, ghibah, persaingan yang tidak sehat dsb.
  4. Ambisi pengakuan adalah penyakit yang sangat halus, seringkali tidak terasa; dan sulit terdeteksi oleh orang lain. Ia memerlukan ilmu dan kepekaan tersendiri.
  5. Untuk mencapai kesehatan nafsiyah dari ambisi pengakuan, memerlukan kontrol jama’I dan berbagai latihan jama’i yang seringkali terasa sangat berat.

Atas dasar semua itulah maka kajian ini penting untuk dikaji secara serius, mendalam dan menghasilkan beberapa tindak lanjut yang kongkrit.

Beberapa fenomena ambisi pengakuan.

Agar kita dapat mendeteksi penyakit ini dalam diri kita sedini mungkin, kita perlu menghasilkan beberapa cirinya yang dapat kita rasakan. Ciri-ciri tersebut antara lain :

  1. Keinginan dihati dari awal – sebelum berbuat – untuk mendapatkan pengakuan dari orang lain.
  2. Meminta satu kedudukan / kehormatan dalam kondisi yang belum sangat terpaksa (masih ada orang lain yang mampu menerima kedudukan tersebut)
  3. Perasaan dan sikap bangga (‘ujub) atas satu kedudukan / keberhasilan yang diperolehnya.
  4. Perasaan enggan / sedih bila kedudukan yang dipegangnya itu dicopot, terutama disaat ia berhasil dalam posisi tersebut
  5. Sangat aktif dalam bekerja dikala ia mendapat kehormatan, ide / usulnya diterima tapi sangat pasif dikala ia tidak mendapat kehormatan, atau ide / usulnya tidak disetujui.

Sebagai bahan renungan, mari kita mengambil beberapa pelajaran berharga dari kisah pemilihan Thalut sebagai raja, dalam QS : Al Baqarah (2) Ayat : 246 – 252.

Selain itu, mari kita renungkan sabda Rasulullah SAW berikut ini :

Dari Abu Musa Al Asy’ari RA, beliau mengatakan : Rasulullah SAW pernah bersabda :

“Sesungguhnya kami, demi Allah ! kami tidak mengangkat sebagai pemimpin terhadap pekerjaan (jabatan) ini, seseorang yang memintanya. Dan (kami) tidak (mengangkat) seseorang yang sangat menginginkannya”

Hadits ini dikeluarkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim. Lafazh diatas adalah lafazh Imam Muslim. Shahih Bukhari : Kitab : Al Ahkam, hadits nomor : 6616. Shahih Muslim : Kitab Al Imarah, hadits nomor : 3402

Itulah beberapa ciri sederhana dari penyakit yang sangat berbahaya ini, semoga kita dikaruniai kepekaan batin oleh Allah SWT sehingga kita dapat merasakan setiap sinyal walau sangat redup dari penyakit ini.

Beberapa bahaya ambisi pengakuan.

  1. Pemahaman terhadap seberapa besar bahaya suatu penyakit, sangat membantu dan sangat memotivasi kita untuk mengadakan tindakan prepentif, immunisasi terhadap penyakit tersebut, sebelum ia menyerang kita, atau tindakan pengobatan yang ekstra serius, dengan seluruh sarana yang memungkinkan, jika ia ternyata telah menyerang kita.
  2. Pernyataan ini dapat kita terapkan secara utuh pada penyakit yang tengah kita bicarakan ini. Untuk itu, kita perlu memahami dampak negatif ambisi pengakuan terhadap diri kita dan terhadap da’wah sekaligus. Berikut ini beberapa dampak negatif tersebut :
  3. Amalnya sia-sia. Karena amal sebesar dan sebanyak apapun bila tidak berdasarkan keikhlasan, tidak akan diterima oleh Allah SWT hasad, perasaan tidak senang pada setiap orang yang mendapat kehormatan yang lebih dari yang ia dapatkan, terutama pada orang yang seangkatan dengannya. Penyakit ini akan mengantar pada semangat untuk bersaing secara tidak sehat, akan memotivasi untuk berghibah, mengadu domba, berwajah dua; dst
  4. Tidak tawazun. Karena perhatian yang sangat besar pada sisi yang dapat mengantar pada pengakuan, akan membuat perhatian dan kerja kita tidak seimbang. Berbagai program yang jauh dari pandangan orang lain seperti tazkiyah, da’wah terhadap isteri dan anak, amal-amal rahasia, akan diabaikan.
  5. Egoisme. Perasaan selalu benar, perasaan benar sendiri, mampu sendiri, yang lain kurang mampu, adalah beberapa bentuk egoisme yang identik dengan ‘ujub, bahkan dapat menjelma menjadi ketakburan, jika ia dibarengi dengan pandangan merendahkan orang lain.
  6. Futur. Perasaan lesu berharakah, malas beramal jama’I, keinginan untuk mundur dari jalan da’wah. Bahkan dalam kondisi yang kronis seseorang dapat insilakh (keluar dari jalan ini) dengan penuh kebencian dan upaya menjelek-jelekkannya pada orang lain. Wa’Iyadzubillah.

Sebagai bahan renungan, mari kita renungkan perintah Allah SWT untuk bersabar bersama jama’ah yang shaleh, dalam QS : Al Kahfi (18) Ayat : 28

Selanjutnya mari kita renungkan urgensi kontrol niat setiap saat agar ia suci dari keinginan-keinginan untuk mendapatkan sesuatu selain ridha Allah SWT, melalui tadabbur hadits mulia berikut ini :

Dari Abu Musa Al Asy’ari RA, beliau mengatakan : “Seorang Arab Badui pernah bertanya kepada Nabi SAW :

“Seseorang berperang untuk mendapatkan harta rampasan. Seseorang berperang untuk disebut-sebut; dan ia berperang untuk dipuji.

Siapakah (diantara mereka) yang berperang dijalan Allah ? Lalu Rasulullah SAW menjawab :

“Siapa yang berperang agar kalimah Allahlah yang tertinggi, dialah yang berperang dijalan Allah”

Hadits ini dikeluarkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim. Lafazh diatas adalah lafazh Imam Muslim. Shahih Bukhari : Kitab : Al Khumus, hadits nomor : 2894. Shahih Muslim : Kitab Al Imarah, hadits nomor : 3523

Demikianlah beberapa bentuk singkat dari bahaya besar yang dapat ditimbulkan oleh penyakit ambisi pengakuan ini, yang bila kita menyempatkan diri untuk merenungi ulang setiap point diatas, kita akan berkesimpulan bahwa semua itu sangat logis, benar dan sangat mungkin terjadi pada diri kita dan pada ikhwah kita, yang bahayanya tidak hanya bersifat pribadi, tapi sangat berbahaya pula untu da’wah dan harakah. Bentuk bahaya besar terhadap da’wah dan harakah tidak hanya terwujud pada kelambanan gerakan, karena adanya monopoli kerja, tapi yang jauh lebih berbahaya adalah jika hasil-hasil da’wah ini hancur lebur karena perpecahan atau insilakh !! Kita semua berlindung dari pada luthfullah untuk menjaga da’wah ini dari segala bahaya.

Olehnya itu kita semua dituntut segera merasakan demikian besar amanah yang kita emban; demikian besar tantangan yang kita hadapi, terutama tantangan yang bersumber dari nafsiyah kita masing-masing, agar kita terus terpacu untuk senantiasa akrab, merapatkan shaf kita, saling terbuka terhadap nasehat dan teguran, meningkatkan loyalitas, kesetiaan, kesiapan untuk selalu taat, walaupun ketaatan itu terasa pahit. Semoga dengan demikian kita dapat mendekat pada rahmat dan taufiq Allah Yang Maha Pemurah.

Beberapa penyebab ambisi pengakuan

Kesungguhan untuk mentazkiyah diri kita dari ambisi pengakuan, mengantar kita untuk mencari dan merenungkan faktor-faktor penyebab timbulnya penyakit ini, agar penyebab itu dapat kita hindari atau kita bermujahadah untuk menghilangkannya. Faktor-faktor penyebab tersebut antara lain sebagai berikut :

  1. Niat yang tidak ikhlas mulai dari awal perjalanan ini, ataupun setelah ditengah perjalanan. Disana jauh terpendam direlung hati yang paling dalam, ternyata ada yang diharapkan untuk pribadinya, selain ridha Allah !! “Allahumma, Ya Allah, luruskanlah hatiku ini”
  2. Hubbud dunia. Gejolak cinta pujian, penghargaan, popularitas, kedudukan, harta, bisnis, isteri dan anak, ternyata demikian besar di hati ini, sehingga seringkali ia mengalahkan ni’matnya cinta Allah, cinta Rasulullah, cinta jihad di jalan Allah, cinta Akhirat, cinta Jannah !! “Allahumma Ya Allah ampunilah hamba-Mu ini”
  3. Over pujian. Pujian yang berlebihan dan bersifat terus menerus apalagi jika pujian tersebut sejak masa remaja dari lingkungan sekitar, penghargaan seakan tiada hentinya, akan melahirkan ambisi pengakuan pada dirinya. Perasaan ‘ujub, egoisme, enggan untuk dinasehati, selalu ingin tampil, selalu ingin menonjol, monopoli pembicaraan, adalah sebagian dari sekian banyak refleksi ambisi pengakuan. “Allahumma Ya Allah, bimbinglah budak-Mu ini”
  4. Tugas-tugas da’wah yang berlebihan. Pemberian tugas-tugas da’wah terutama yang bersifat keluar / “seakan” bernilai kehormatan seringkali benar-benar dirasakan sebagai kehormatan yang dini’mati !. Jika hal ini terjadi berulang kali tanpa tazkiyah dan tanpa kontrol jama’I, apalagi jika tugas-tugas semacam itu ditambah dan diperbanyak, ibarat benih di tanah mendapat pupuk, ambisi pengakuan itu tentu menjadi subur. “Allahumma Ya Allah, kami semua memohon rahmat-Mu”.
  5. Ukhuwah yang kurang kuat. Bila ukhuwah kurang kuat, bila hati kurang dekat, saling menasehatipun akan kurang, saling menegurpun akan segan. Yang ada ialah penghargaan basa basi, banyak kerja, kurang kontrol. Silaturrahmi akan jarang, pembicaraan dari hati ke hati lebih jaranh lagi. Kondisi seperti ini tidak hanya kondusif terhadap penyakit ambisi pengakuan saja, tapi juga terhadap sejumlah penyakit dan kelemahan lainnya. “Allahumma, Ya Allah, kami semua memohon kekuatan dari-Mu.

Sebagai bahan renungan, mari kita hayati secara berulang-ulang, firman suci Allah SWT dalam QS : At Taubah (9) Ayat : 24 QS : At Taubah (9) : 111 – 112.

Demikianlah beberapa faktor penyebab timbulnya penyakit ambisi pengakuan yang tentu layak kita renungkan agak lama, terutama yang berkaitan dengan diri kita secara pribadi, sebab renungan itu akan kekurangan ma’nanya jika yang ada di benak kita adalah orang lain. Tidak ! Diri kitalah secara pribadi yang harus bangkit terlebih dahulu. “Karena sungguhm kekurangan dan penyakit nafsiyah ana masih terlalu banyak, sehingga ana perlu mengkhususkan waktu yang cukup untuk merenungkan kondisi pribadi yang sangat lemah ini”. Demikianlah hendaknya kita berbicara dan bertekad pada diri kita masing-masing.

Posted on 6 April 2008, in Forum FFI. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: